Page 44 - modul
P. 44
Gajah Sumatra
“Kamu benar-benar tidur, Shin?” itu pertanyaan keseribu yang
didengarnya. Kali ini yang bertanya adalah Chef, si tupai kecil yang lincah.
Shin sering diolok-olok karena posisi tidurnya dianggap aneh. Gajah Sumatera
itu bisa tidur dalam posisi berdiri. Kedua telinganya bergerak nyaris tanpa
henti. “Tentu saja,” balas Shin sambil menungyah rumput. Gajah itu tiba-tiba
termangu. “Kok melamun? Kenapa tidak segera mengabiskan makananmu?”
Shin mengangkat belalainya ke udara. “Aku memikirkan makananku yang
makin lama makin sulit dicari,” gumam Shin. Chef tidak segera menjawab.
Makhluk sebesar Shin membutuhkan makanan hingga ratusan kilogram setiap
harinya. Malangnya, hutan mereka makin hari makin menyempit. Sumber
makanan terus berkurang. “Aku memikirkan keluargaku, teman-temanku
yang lain. Banyak yang kelaparan sekarang.” Chef juga tahu itu. Hanya saja
ia berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tak hanya keluarga Shin, hewan-hewan
lain pun menderita hal yang sama. Singa, orangutan, harimau, badak, dan
banyak lagi. “Aku tahu minggu lalu ada gajah yang mati,” ungkap Chef
dengan wajah murung. Baca juga: Menulis Teks Non-Fiksi Shin
menggerakkan belalainya lagi. “Itu sepupu ibuku. Namanya Lex. Dan kemarin
giliran Sonya. Sudah banyak yang menjadi korban karena kelaparan,” keluh
Shin. Setelah makanan Shin habis, gajah itu berjalan ke arah sungai. Dari
kejauhan dia melihat beberapa ekor gajah berjalan keluar dari hutan. Shin
tercekat. “Chef, bukannya itu arah pemukiman manusia?” tanya Shin pada
Modul Pembelajaran Cerita fabel
39

